Sangat
menarik untuk mendengarkan beberapa siswa sekolah menengah yang
berbincang-bincang dengan sesama temannya tentang pengalaman pertama mereka
mengakses internet. Ada beberapa siswa yang tampak gembira dan
antusias menceritakan pengalamannya, sebagian lagi setengah berbisik-bisik
membagi pengalamannya, sebagian lagi tampak datar dan kesal karena belum
berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, dan ada sebagian
siswa lagi yang hanya mendengarkan tanpa dapat bercerita
apa-apa karena memang kelompok siswa yang terakhir ini belum sempat ke
Warung Internet (WARNET). Gambaran yang demikian ini adalah salah satu dari
hasil pelajaran yang diberikan guru tentang cara-cara penggunaan internet.
Kegiatan
para siswa ke WARNET sudah mulai menjadi pemandangan yang biasa di berbagai
kota besar. Apabila diamati, maka ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh
para siswa yang datang ke Warung Internet. Di antara para siswa ini, ada yang
(1) memang sibuk mencari berbagai informasi yang dibutuhkan atau yang sesuai
dengan tugas-tugas pelajaran sekolah, (2) mencari berbagai informasi yang mutakhir
di berbagai bidang sehingga tidak dikatakan temannya ketinggalan berita, (3)
saling berkomunikasi dengan sesama temannya baik yang ada di Indonesia maupun
di tempat lainnya melalui email atau chatting, (4) menikmati
berbagai hiburan yang tersedia, atau (5) sekedar ikut-ikutan teman, baik yang
awalnya sebagai penonton maupun yang memang tertarik untuk belajar mengakses
internet.
Ada juga
sekolah yang mulai secara sistematis memasyarakatkan penggunaan potensi internet
untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Misalnya, para siswa
dibimbing untuk (1) memiliki alamat email (email address) yang
sifatnya gratis dan (2) mengetahui cara-cara menggunakan email, baik
yang lingkupnya seorang ke seorang (one-to-one) maupun dari seorang
kepada banyak orang (one-to-many), dan (3) cara-cara mengirimkan
dokumen yang terdiri dari beberapa halaman sebagai lampiran dari sebuah email.
Penggunaan
alamat surat elektronik (electronic mail address atau email address)
merupakan salah satu kecenderungan yang berkembang dewasa ini sebagai
manifestasi dari pemanfaatan teknologi internet. Di dalam kartu nama seseorang,
tampaknya sudah menjadi suatu kebutuhan atau gejala prestise sosial yang
berkembang dalam pergaulan bermasyarakat untuk mencantumkan alamat surat
elektronik selain informasi yang sudah lazim, seperti: nama, alamat
rumah/kantor, nomor telepon dan facsimile.
Dengan
dicantumkannya email address pada kartu nama seseorang berarti
pemegang/pemilik kartu nama membuka peluang untuk dihubungi melalui cara yang
tercepat, yaitu melalui email. Melalui email, seseorang
dimungkinkan dapat berkomunikasi dengan orang lain secara cepat, informal,
akrab/bersahabat, dan tidak terlalu kaku atau terikat prosedur. Dalam kaitan
ini, fungsi internet adalah sebagai media komunikasi.
Sebagai
media komunikasi, pemanfaatan internet berkembang sangat cepat. Dewasa ini
terdapat sekitar 560 juta pengguna internet di seluruh dunia. Satu hal lainnya
yang menarik adalah bahwa lebih dari 65% warga negara Amerika Serikat yang
berusia di atas 6 tahun telah mempunyai akses ke internet. Sebagian besar dari
mereka ini mengakses internet dari rumah, menyusul yang berikutnya dari tempat
bekerja, dan yang terakhir dari tempat-tempat umum (Aristotle Institute, 2003).
Dikatakan
internet sebagai media pembelajaran karena melalui aktivitas mengakses
internet, seseorang dapat memperoleh banyak informasi yang berkaitan dengan
bidang pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Melalui fasilitas searching
atau browsing di internet, seseorang dapat menjelajahi berbagai sumber
informasi yang tersedia yang dapat diakses dengan cepat melalui internet.
Melalui internet, seseorang dapat mengunjungi perpustakaan sebanyak yang
dikehendaki, bahkan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan jumlah
perpustakaan yang secara fisik memang ada (Kitao, 2002).
Berkaitan
dengan pemanfaatan internet untuk pembelajaran, ada satu temuan yang menarik
dari hasil studi eksperimen tentang pemanfaatan internet untuk kegiatan
pembelajaran remedial di Sekolah Menengah yang diselenggarakan oleh the
Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Open
Learning Center (SEAMOLEC). Dikemukakan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan antara kegiatan pembelajaran remedial bahasa Inggris yang
dilaksanakan secara tatap muka maupun melalui internet (Simanjuntak dan
Siahaan, 2003). Artinya, terbuka peluang bagi para siswa untuk mengikuti
kegiatan pembelajaran remedial yang sesuai dengan kondisinya, apakah melalui
internet atau secara tatap muka.
Berdasarkan
uraian di atas tampaklah menjadi satu hal yang menarik untuk melakukan kajian
yang mengarah pada pemanfaatan teknologi internet untuk kepentingan
pembelajaran. Diharapkan setidak-tidaknya kajian ini akan dapat memberikan
beberapa pertimbangan pemikiran khususnya bagi lembaga-lembaga pendidikan
sekolah yang berminat untuk memanfaatkan teknologi internet untuk kepentingan
pembelajaran. Melalui perencanaan yang baik dan diikuti dengan pelaksanaan
kegiatan secara bertahap, maka lembaga pendidikan sekolah diharapkan akan dapat
secara optimal memanfaatkan teknologi internet untuk menunjang kepentingan
pendidikan yang dikelolanya atau kegiatan pembelajaran pada khususnya.
PENGENALAN
SINGKAT TENTANG TEKNOLOGI INTERNET
Menurut
Brotosiswoyo (2003) internet pada dasarnya adalah perpaduan antara kemajuan
teknologi informasi dengan telekomunikasi. Teknologi informasi memunculkan cara
untuk mengubah informasi baik yang tadinya berwujud tulisan, gambar maupun
suara menjadi wujud kumpulan lambang bilangan 0 dan 1 yang disebut digital.
Dengan bantuan peralatan yang disebut processor seperti yang terdapat di
dalam komputer, informasi yang bersifat digital ini diproses dengan kecepatan
lebih dari satu miliar langkah dalam setiap detiknya. Hasilnya adalah seperti
yang sekarang ini dapat dinikmati oleh pengguna internet.
Teknologi
internet menurut dal Pian dan da Silveira (1996) dapat membantu (1)
menghasilkan/menumbuh-kembangkan nilai-nilai baru, (2) menjangkau peserta
belajar dalam jumlah yang besar, dan (3) memberdayakan individu dan kelompok
sosial. Dalam kaitan ini, fungsi internet adalah sebagai media pembelajaran.
Melalui pemanfaatan internet, seseorang dapat membelajarkan dirinya sehingga
memperoleh nilai-nilai baru yang dikembangkan di dalam dirinya, atau
memantapkan berbagai pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Internet
memberikan berbagai kemungkinan dan kemudahan kepada para penggunanya untuk
berkomunikasi dalam waktu yang nyata, dari manapun dan di manapun mereka
berada. Yang diperlukan hanyalah seperangkat komputer yang sudah dilengkapi
dengan fasilitas modem dan kemudian menghubungkannya dengan sambungan telepon.
Seandainya tidak memungkinkan memiliki fasilitas yang demikian ini, seseorang
dapat dengan mudah melakukan akses informasi melalui internet dengan mendatangi
Warung Internet yang banyak tersedia di masyarakat dewasa ini.
Manfaat yang
dapat diperoleh melalui penggunaan internet dirasakan juga di Indonesia.
Berdasarkan data yang disajikan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) bahwa jumlah pengguna internet meningkat secara pesat. Jika
pada tahun 1998, pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 512.000
orang, maka angka ini meningkat hampir empat kali lipat pada tahun 2000 di mana
terdapat sekitar 1.900.000 pengguna internet (APJII, 2003).
Dalam kurun
waktu yang sama (1998-2000), kecenderungan peningkatan jumlah pengguna internet
ini juga terjadi di berbagai negara lainnya, seperti: (1) di Brazil, dari
1,7 juta pengguna internet meningkat menjadi 9,8 juta orang, (2) di China, dari
3,8 juta menjadi 16,9 juta orang, dan (3) di Uganda, dari 3.000 pengguna
internet meningkat menjadi 25.000 orang (Downer, 2001). Angka ini menunjukkan
peningkatan jumlah pengguna internet yang sangat cepat terutama di Uganda yaitu
sekitar 800% selama kurun waktu 2 tahun.
Perkembangan
berikutnya yang juga menarik untuk dicatat adalah perkembangan jumlah pengguna
internet di Indonesia dari tahun 2002 ke tahun 2003. Jika pada tahun 2002,
pengguna internet berjumlah sekitar 4.500.000 orang, maka angka ini meningkat
hampir dua kali lipat pada tahun 2003 di mana terdapat sekitar 8.080.534
pengguna internet. Bahkan diestimasikan jumlah pengguna internet di Indonesia
selama tahun 2004 akan meningkat sekitar 50% yaitu menjadi sekitar 12.000.000
orang.
TEKNOLOGI
INTERNET UNTUK KEGIATAN PEMBELAJARAN
Internet
merupakan suatu alat atau sarana pembelajaran yang ampuh karena kemampuan atau
potensi yang dimilikinya yang memungkinkan dikembangkannya masyarakat dan
peserta belajar yang bersifat global. Internet memberikan peluang untuk (1)
meningkatkan akses terhadap informasi, (2) mengumpulkan, menganalisis dan
mengorganisasikan informasi, (3) mengkomunikasikan gagasan dan informasi, (4)
merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan, (5) bekerja sama dengan orang
lain, (6) memecahkan berbagai masalah, dan (7) memupuk/mengembangkan pengertian
kultural (Kimber & Nikki, 1998).
Salah satu
contoh mengenai kegiatan atau program pembelajaran melalui internet adalah yang
diselenggarakan oleh Virtual High School (VHS) di Amerika Serikat pada
tahun 1997. Program ini pada awalnya diikuti oleh sekitar 28 sekolah menengah
di Amerika Serikat dan kemudian berkembang pesat sehingga jumlah siswa yang
dilayani sekitar 3000 orang yang berasal dari 150 sekolah yang tersebar di 30
negara bagian dan dari 5 negara asing lainnya.
Ada beberapa
persyaratan bagi para siswa yang mengikuti program pembelajaran melalui
internet yaitu para siswa haruslah: (1) bermotivasi tinggi untuk berhasil
belajar secara mandiri, (2) tekun atau ulet dalam kegiatan belajarnya karena
keberhasilan belajar adalah sepenuhnya tergantung pada diri para siswa sendiri,
(3) senang belajar, melakukan kajian, membaca dan bersifat mandiri, dan (4)
dapat belajar secara luwes.
Selain
manfaat program pembelajaran melalui internet sebagaimana yang dikemukakan
Brown (2000), masih ada manfaat lain yaitu fleksibilitas kegiatan pembelajaran,
baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran,
maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/instruktur, serta interaksi
antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran (Siahaan,
2002).
Sedangkan
Bates (1995) mengidentifikasi 4 keuntungan/manfaat kegiatan pembelajaran
melalui internet, yaitu: (1) dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran
antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity),
(2) memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time
and place flexibility), (3) menjangkau peserta didik dalam cakupan yang
luas (potential to reach a global audience), (4) mempermudah
penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content
as well as archivable capabilities).
Selanjutnya,
dalam merencanakan pemanfaatan internet untuk pembelajaran, haruslah ditentukan
terlebih dahulu apa yang menjadi fungsi dari pemanfaatan internet itu sendiri
bagi kegiatan pembelajaran. Ada tiga fungsi media (termasuk internet) dalam
kegiatan pembelajaran, yaitu sebagai (1) komplemen (pelengkap), (2) supplemen
(tambahan), atau (3) substitusi (pengganti) terhadap pelajaran sekolah
(Siahaan, 2002).
Pada tahap
perencanaan materi pembelajaran melalui pemanfaatan internet, haruslah terlebih
dahulu ditentukan fungsi mana yang akan dipilih. Keputusan inilah yang akan
mengarahkan para guru mengembangkan rancangan materi pembelajaran yang akan
dimanfaatkan melalui internet. Fungsi manapun yang akan dipilih, para guru
tentunya dituntut untuk belajar dari guru atau sekolah lain yang telah lebih
dahulu berpengalaman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran melalui pemanfaatan
internet.
Sebelum
menyelengarakan kegiatan pemanfaatan internet untuk pembelajaran, guru
merupakan faktor yang sangat menentukan dan keterampilannya memotivasi peserta
didik menjadi hal yang krusial. Dengan demikian, guru haruslah bersikap
transparan menyampaikan informasi tentang kegiatan pembelajaran sehingga
peserta didik dapat belajar secara baik untuk mencapai hasil belajar yang baik.
Informasi yang dimaksudkan di sini mencakup (1) alokasi waktu untuk mempelajari
materi pembelajaran dan penyelesaian tugas-tugas, (2) keterampilan teknologis
yang perlu dimiliki peserta didik untuk memperlancar kegiatan pembelajarannya,
dan (3) fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran
(Rankin, 2002).
Para guru
dalam kegiatan pembelajaran elektronik juga dituntut aktif dalam diskusi
(McCracken, 2002), misalnya dengan cara: (1) merespons setiap informasi yang
disampaikan peserta didik, (2) menyiapkan dan menyajikan risalah dan berbagai
sumber (referensi) lainnya, (3) memberikan bimbingan dan dorongan kepada
peserta didik untuk saling berinteraksi, (4) memberikan umpan balik secara
individual dan berkelanjutan kepada semua peserta didik, (5)
menggugah/mendorong peserta didik agar tetap aktif belajar dan mengikuti
diskusi, serta (6) membantu peserta didik agar tetap dapat saling berinteraksi.
Sehubungan
dengan pembelajaran melalui pemanfaatan internet, Soekartawi (2003)
mengidentifikasi ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh, yaitu antara lain
(1) meningkatkan kompetensi belajar siswa, (2) meningkatkan keterampilan dan
pengalaman mengajar dalam pengadaan bahan-bahan belajar, (3) mengatasi
masalah-masalah keterbatasan tenaga, dan (4) meningkatkan efisiensi kerja.
SOSIALISASI
PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER DAN INTERNET
Pengenalan
suatu program inovasi, betapapun bagusnya, akan mengalami kegagalan manakala
tidak diawali terlebih dahulu dengan sosialisasi yang memadai kepada pihak yang
akan menggunakan atau memanfaatkannya (end users). Dengan tidak ada atau
minimnya sosialisasi yang dilakukan, maka pelaksana atau pengguna yang akan
memanfaatkan program inovasi kemungkinan akan merasakan bahwa mereka tidak
mengetahui apa yang menjadi esensi program itu dikenalkan kepada mereka.
Berkaitan
dengan pengenalan program inovasi sepeti tersebut di atas, pertanyaan yang
mungkin dikemukakan oleh sasaran atau pihak yang akan memanfaatkan program
adalah “Apakah memang program yang dikenalkan tersebut merupakan kebutuhan
kami? Atau, “apakah program yang dikenalkan itu hanya merupakan kehendak atau
kebutuhan pihak tertentu saja?” Apabila sosialisasi tidak dilakukan atau
sosialisasi dilakukan tetapi kadarnya sangat kurang, maka dapat saja terjadi
bahwa pihak yang akan menjadi sasaran program hanya sekedar melaksanakan saja
tanpa ada perasaan memiliki program yang ditujukan kepada mereka (the
project for the sake of the project).
Lembaga-lembaga
kursus komputer dapat saja mendatangi sekolah-sekolah untuk mensosialisasikan
pentingnya kursus komputer bagi para siswa sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Selain itu, beberapa lembaga kursus komputer memberikan penawaran yang menarik
kepada pihak manajemen sekolah, yaitu kesediaan untuk melatih para gurunya
secara gratis. Di samping itu, para guru juga diberi kesempatan untuk mencicil
pembelian komputer dengan rentangan waktu yang relatif lebih panjang. Demikian
juga untuk melatih para siswa, lembaga-lembaga kursus komputer memberikan
penawaran yang menarik misalnya dengan biaya kursus yang kompetetif atau lebih
rendah dengan biaya kursus untuk umum.
Bahkan dapat
saja terjadi bahwa lembaga kursus komputer yang menawarkan untuk melengkapi
sekolah dengan lab komputer yang misalnya terdiri atas 20 unit. Tawaran ini
disertai dengan berbagai kemudahan. Misalnya, sekolah dapat saja mencicil
pembayarannya melalui anggaran sekolah yang ada. Pihak manajemen sekolah juga
akan melakukan sosialisasi rencana untuk pengadaan lab komputer kepada para
guru, siswa, dan orangtua siswa.
Manakala lab
komputer dan fasilitas koneksi internet sudah tersedia di sekolah, maka sekolah
dapat saja menjalin kerjasama dengan berbagai institusi lainnya yang mempunyai
keahlian di bidang teknologi internet untuk pembelajaran. Tujuannya terutama
adalah untuk mempersiapkan para guru sehingga memiliki pengetahuan dan
kemampuan untuk merancang, mengembangkan, dan menyajikan materi pembelajaran
melalui pemanfaatan internet. Dalam kaitan ini, Pusat Pendidikan Terbuka/Jarak
Jauh Asia Tenggara (SEAMEO Regional Open Learning Center atau disingkat
SEAMOLEC) merupakan salah satu lembaga yang telah berpengalaman melatih
tenaga edukatif (guru, dosen, instruktur pelatihan) di bidang merancang,
mengembangkan, dan menyajikan materi pembelajaran melalui pemanfaatan internet.
Tentunya
melalui kerjasama yang dijalin oleh pihak manajemen sekolah dengan berbagai
institusi yang bergerak di bidang teknologi komputer, internet dan e-learning
akan dapat membantu sekolah dalam pengadaan komputer, fasilitas lainnya dan
penyiapan tenaga yang dibutuhkan. Sedangkan kerjasama pihak sekolah dengan
orangtua siswa akan dapat membantu sekolah membelajarkan para siswa dalam hal
pemanfaatan komputer dan internet. Kontribusi para orangtua siswa ini dapat
berupa penambahan biaya SPP setiap bulannya. Kepada para siswa juga diharapkan
agar benar-benar memanfaatkan fasilitas komputer yang akan diadakan sehingga
mereka menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang komputer dan
internet.
Pada umumnya
para orangtua tentulah tidak keberatan sejauh peningkatan kontribusi mereka
memang akan memberikan nilai tambah kepada anak-anak mereka (added values).
Nilai tambah ini dapat saja berupa kemampuan dan keterampilan tambahan yang
dimiliki oleh para siswa di bidang pengetahuan dasar komputer sesuai dengan
perkembangan tuntutan dunia kerja. Dengan demikian, para siswa yang
menyelesaikan pendidikannya akan sekaligus juga memiliki bekal mencari kerja
berupa kemampuan dan keterampilan di bidang komputer.
PENGENALAN
PEMANFAATAN INTERNET
Dari
berbagai institusi yang telah berpengalaman menyelenggarakan kegiatan
pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi internet, ada beberapa tahapan
kegiatan yang perlu mendapat perhatian untuk dilaksanakan, seperti misalnya:
sosialisasi internal, mempersiapkan sumber daya manusianya, mempersiapkan
infrastruktur yang dibutuhkan, menjalin kerjasama dengan berbagai institusi
yang relevan dan kemudian melakukan secara bertahap pemanfaatan internet untuk
pembelajaran (perintisan).
Pengenalan
pemanfaatan internet kepada siswa dapat saja dimulai dengan penjelasan tentang
cara melakukan koneksi ke internet, pembuatan email address,
prosedur dan cara-cara menggunakan email. Setelah dinilai bahwa para
siswa telah dapat memahami informasi yang diberikan, maka guru memberikan tugas
kepada para siswa untuk mempraktekkan pengetahuan yang telah diperoleh. Tugas
ini tentunya dilakukan melalui email.
Tugas yang
diberikan guru dapat saja dimulai dari yang sangat sederhana (misalnya hanya
sekedar menjawab beberapa pertanyaan) sampai dengan penyelesaian tugas yang
membutuhkan beberapa halaman. Demikian juga dengan para siswa dalam penyerahan
tugas yang telah dikerjakannya, dilakukan dengan menggunakan fasilitas
internet. Dengan tahapan kegiatan awal yang demikian ini, guru akan dapat
mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan email dan
mereka ini segera dibantu untuk mengatasi kesulitan yang ada.
Setelah
kegiatan komunikasi melalui email berjalan lancar, maka guru dapat
mengenalkan alat komunikasi beikutnya, seperti newsgroup atau papan
bulletin dan chatting. Manaka fasilitas lab komputer, LAN, dan koneksi
internet tersedia di sekolah, maka guru bersama para siswa dapat mempraktekkan
sarana komunikasi yang disebut chatting tentunya setelah diajarkan
cara-cara penggunaannya.
Tahapan kegiatan
berikutnya yang dijelaskan oleh guru dapat saja misalnya tentang cara-cara
mencari informasi tertentu melalui internet (internet browsing),
melakukan down loading dokumen tertentu dari internet atau mengcopy
bagian tertentu dari suatu dokumen melalui internet. Dalam kaitan ini, siswa
diberi tugas untuk mencari berbagai informasi dari internet mengenai topik
tertentu dan membuat ringkasannya dengan menyebutkan sumbernya.
Hasil
pekerjaan siswa juga dikirimkan kepada guru sebagai lampiran melalui email.
Para siswa yang mengalami kesulitan senantiasa diberi kesempatan untuk
mengemukakannya langsung kepada guru melalui email sehingga guru dapat
membantu siswa mengatasi kesulitannya. Dengan memanfaatkan email secara
optimal maka secara berangsur-angsur para siswa telahmengembangkan budaya email
di dalam dirinya.
Penjelasan
atau pengenalan internet kepada siswa yang dilakukan secara bertahap dan
diikuti langsung dengan penugasan-penugasan akan dapat lebih memantapkan rasa
percaya diri siswa mengenai kemampuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya
di sekolah. Para siswapun diberi kesempatan untuk mencoba menerapkan bekal
pengetahuan dan keterampilannya dan kemudian melaporkan hasilnya kepada
gurunya. Untuk memenuhi tugas praktek ini, ada baiknya para siswa membentuk
kelompok-kelompok kecil. Tujuannya adalah agar dapat saling berkontribusi dalam
menghadapi kemungkinan kesulitan/kendala yang dihadapi sekaligus juga akan
dapat meringankan biaya akses internet.
PERINTISAN
PEMANFAATAN INTERNET UNTUK PEMBELAJARAN
Setelah
berbagai persiapan yang berkaitan dengan pemanfaatan internet untuk kegiatan
pembelajaran, maka langkah berikutnya yang dilakukan sekolah adalah
menyelenggarakan perintisan. Tentunya dimulai dari beberapa mata pelajaran yang
gurunya memang telah memperlihatkan kesungguhan dan antusias untuk melaksanakan
perintisan pemanfaatan internet untuk pembelajaran.
Langkah-langkah
kegiatannya dapat saja dimulai dari yang paling sederhana, yaitu mengoptimalkan
pemanfaatan email dalam pemberian tugas oleh guru dan penyerahan hasil
pelaksanaan tugas oleh siswa. Kemudian, pemberian tugas yang mengkondisikan
siswa untuk melakukan browsing dan mendiskusikan topik-topik tertentu
melalui mailing list (milis), newsgroup, atau yang disebut juga
papan bulletin.
Jika sekolah
memungkinkan untuk mempersiapkan gurunya menggunakan perangkat lunak (software)
tertentu untuk mengembangkan dan menyajikan materi pembelajaran, maka sekolah
dapat saja memulai perintisan pemanfaatan internet untuk pembelajaran dengan
menggunakan software yang telah dikuasai. Tentunya harus menjadi
pertimbangan pihak manajemen sekolah apabila software yang akan
digunakan itu adalah jenis yang harus dibeli. Kalaupun seandainya sekolah
memang mampu untuk membeli software-nya, langkah pertimbangan berikutnya
adalah apakah memang mudah penggunaannya (user friendly). Jika memang
ya, maka para guru juga haruslah mensosialisasikan kepada para siswa software
yang akan digunakan.
Hambatan dan
Tantangan Mengakses Internet
Salah satu
hambatan yang dihadapi siswa dalam mengakses internet adalah instruksi atau
pedoman yang diberikan komputer dalam bahasa Inggris. Kekhawatiran para siswa
akan ketidakmampuan mereka memahami instruksi/pedoman yang berbahasa Inggris
dalam mengakses internet seyogianya tidak perlu terjadi. Pola pikir atau sikap
para siswa ini harus dibalik, yaitu mengubah hambatan menjadi tantangan.
Hambatan akan tetap menjadi hambatan apabila tidak diselesaikan. Dengan
keberanian menyelesaikan hambatan, berarti telah terjadi satu langkah kemajuan.
Kemampuan
berbahasa (termasuk bahasa Inggris) akan semakin meningkat apabila semakin
tinggi frekuensi penggunaannya. “Perasaan takut membuat kesalahan” haruslah
ditinggalkan dan diganti dengan “keberanian belajar yang benar melalui
kesalahan”. Inilah tantangan bagi para siswa dan bukan justru disikapi
sebaliknya. Hendaknya motivasi atau semangat para siswa untuk memanfaatkan
internet bagi kepentingan pembelajaran tidak perlu menjadi surut hanya
semata-mata karena tingkat penguasaan bahasa Inggris yang dirasakan belum baik.
Perasaan
kurang percaya diri akan kemampuan yang dimiliki untuk memanfaatkan teknologi
internet (gagap teknologi atau gatek) merupakan faktor lain yang juga dapat
menjadi hambatan. Sekalipun misalnya sudah dibekali dengan pengetahuan tentang
prosedur atau cara-cara pemanfaatan internet di sekolah, masih ada saja para
siswa yang merasa ragu-ragu atau belum berani memanfaatkan internet.
Kecenderungan kelompok siswa yang demikian ini adalah menjadi ‘penggembira’
atau ‘penonton’ di kalangan teman-temannya sewaktu mereka harus melakukan akses
internet.
Perasaan
kurang percaya diri yang berkembang di kalangan para siswa dipengaruhi juga
oleh tingkat penguasaan bahasa Inggris mereka. Kemungkinan akan berbeda halnya
apabila bahasa Indonesia termasuk salah satu di antara bahasa instruksi/pedoman
yang digunakan sebagai bahasa instruksi/pedoman di internet. Sebagaimana halnya
yang dilakukan oleh beberapa negara lainnya, seperti Korea, Jepang, dan Cina.
Salah satu upaya untuk membudayakan pemanfaatan teknologi internet di kalangan
masyarakat, penggunaan bahasa nasional merupakan faktor yang sangat penting.
Teknologi diperkenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan budaya.
Faktor
kemampuan finasial para orangtua siswa juga akan turut mempengaruhi sikap siswa
dalam melakukan akses internet. Kondisi ini tentunya sangat dirasakan oleh para
siswa yang berasal dari keluraga yang ‘hidupnya pas-pasan’. Hambatan
keterbatasan finansial ini tentunya akan dapat diatasi melalui ‘usaha patungan’
di antara beberapa orang siswa.
Upaya lain
untuk mengatasi hambatan finansial adalah tidak melakukan penyelesaian tugas
selama koneksi internet berlangsung karena akan membutuhkan banyak waktu
sehingga akan memperbesar biaya akses internet. Karena itu, disarankan agar
tugas yang diberikan guru diselesaikan terlebih dahulu dan setelah selesai,
barulah file elektroniknya di copy ke disket untuk dikirimkan sebagai attachment
melalui email.
Jika
kaitannya dengan mencari informasi berupa hasil-hasil penelitian atau kajian
melalui internet, maka disarankan agar apabila informasi atau dokumen yang
dicari dari internet sudah ditemukan, langsung saja di ‘download’ ke
disket. Mempelajari dokumennya dapat dilakukan di luar koneksi internet. Dengan
cara demikian ini maka waktu yang digunakan untuk koneksi ke internet akan
dapat ditekan sesingkat mungkin sehingga konsekuensi biaya yang dikeluarkan
akan relatif lebih sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar